"Literasi"
Semua ini dimulai ketika aku -- untuk pertama kalinya -- mempunyai cukup banyak waktu luang dan "kebebasan" sekaligus. Tinggal sendirian tanpa pengawasan dengan jarak ratusan kilometer dari kampung halaman, ditambah dengan liburan semester yang durasinya agak panjang, membuatku bebas mengeksplorasi jati diri sesuka hati. Lalu pada waktu itu, aku memutuskan untuk membaca.
Keliling-keliling pakai angkot, menelusuri perpustakaan, toko buku, dan pasar buku tradisional yang tersedia di kota ini. Sampai puas. Tapi ternyata masih belum puas juga. Lalu, aku pun memutar otak, mencari kepuasan yang lain-lain. Akhirnya, muncul sebuah ide.
Idenya sederhana. Setiap orang mungkin memiliki tumpukan buku yang sudah tak dibaca lagi. Dugaanku, ada seseorang di luar sana -- entah di mana -- yang sangat tertarik sekali untuk membaca buku itu. Konsepnya seperti "biro jodoh", untuk menghubungkan "buku yang terabaikan" dengan "(calon) pembaca yang mencintai buku itu secara sederhana, apa adanya".
Menggunakan modal sosial yang kumiliki beberapa tahun terakhir, aku ajak teman-temanku untuk merealisasikan ide ini. Basis teknologinya hanyalah sebuah grup chat. Di situ, tiap orang bisa "memamerkan" buku-buku mereka yang "siap dilepas". Nanti, kalau ada orang lain yang berminat dengan buku itu, bisa langsung kontak sang wali buku.
Maksudnya seperti apa? Apakah ini grup jual beli buku? Tidak juga. Kesepakatannya diserahkan antara kedua belah pihak itu. Apakah mau dijual? Atau diberikan secara cuma-cuma? Atau cukup bayar ongkos kirim saja? Terserah.
Ide sederhana ini ternyata direspon cukup positif oleh teman-temanku. Dan akupun berhasil menambah cukup banyak koleksi buku gratis, dari teman-temanku, atau temannya teman-temanku. Tidak sekedar buku yang gratis, melainkan beberapa judul buku yang sangat aku cintai. Skala transaksi buku-buku ini pun membesar dan meluas. Antar provinsi, antar pulau. Bahkan ada kalanya aku harus menyewa mobil box untuk mengangkut banyak buku-buku. Dari segi sumber daya manusianya pun berkembang. Ada komunitas lain yang bersedia berkolaborasi. Aku pun sampai dapat akses ke "gudang komunitas", khusus untuk menyimpan buku-buku tersebut. Lalu, juga ada dukungan dari Pemerintah Daerah setempat. Komunitasku ini diberikan "ruangan kantor" di sebuah gedung pemerintahan.
Setelah beberapa tahun beroperasi, akhirnya aku mencapai titik jenuh. Lebih tepatnya, masih kurang puas lagi.
Komunitas ini sebenarnya bisa terus beroperasi, tapi aku perlahan menyadari bahwa "dampak positif"-nya terbatas sampai ke seberapa tinggi kualitas buku yang didistribusikan. Istilah kerennya, "garbage in, garbage out". Dan sebagai admin komunitas, aku melihat langsung bagaimana fenomena itu terjadi.
Lalu kemudian aku berpikir. Ketimbang memutar-mutar (redistribusi) buku-buku lama, mungkin, sudah saatnya kita berpikir bagaimana caranya agar bisa menghasilkan buku-buku baru, yang tentunya juga berkualitas tinggi. Saatnya berganti fokus dari "membaca" ke "menulis".
Lama kelamaan, komunitas ini pun terabaikan, terbengkalai, dan lenyap dimakan masa. Aku pun harus minggat dari kota itu. Memulai lembaran kehidupan yang baru, di kota selanjutnya.
Di kota yang baru ini, aku membaurkan diri dengan skena komunitas setempat. Benar-benar dimulai dari nol lagi. Kali ini, aku tidak lagi berperan sebagai founder, seperti yang ku lakukan di "kota pertama". Di kota kedua ini, modal sosialku sama sekali tidak cukup untuk jadi founder. Aku harus memulainya sebagai "anggota biasa" pada inisiatif yang dibuat oleh orang lain.
Seperti progresi sebuah game, tingkat kesulitan di kota kedua ini jauh lebih tinggi. Setiap komunitas sudah punya circle petingginya masing-masing, yang sulit untuk ditembus. Aku yang datang "dari luar" sebagai anggota biasa hanyalah dianggap sebagai "orang asing". Segala upayaku untuk mempengaruhi agenda utama circle petinggi, jarang ada yang berhasil.
Jarang lho ya. Bukan berarti gagal semua. Konsep ide yang ku kerjakan di kota pertama sempat berhasil ku replikasi 100% di kota kedua, dengan "menunggangi" agenda komunitas lokal yang berhasil kususupi. Mwahaha. Selagi menyusun strategi bagaimana untuk beralih fokus dari "baca" ke "tulis", di kota kedua ini aku mendapat cukup banyak pasokan buku-buku (gratis) baru, yang judulnya lumayan sangat kucintai.
Setelah jungkir balik mengerjakan sidequest ini selama berbulan-bulan (dan bertahun-tahun?), aku pun berhasil memasuki beberapa komunitas menulis yang ada di kota kedua ini -- dan sekitarnya. Cara mereka beroperasi pun berbeda-beda.
Ada yang sangat berfokus sekali pada penulisan nonfiksi. Sang panitia menyediakan tempat kegiatan (di kantor komunitas, atau di perpustakaan, atau di kafe), konsumsi (gratis!), dan dokumen-dokumen referensi yang diperlukan untuk membuat karya nonfiksi baru.
Ada yang membuat publikasi resmi komunitas. Setiap anggota bisa berkontribusi menyumbang tulisan, nanti diseleksi panitia. Untuk yang jenis ini, aku pernah berperan sebagai "anggota biasa yang menyumbang tulisan" dan juga pernah berperan sebagai "tukang seleksi tulisan yang masuk". Sudah beberapa tahun terakhir, aku memiliki rutinitas menjadi tukang seleksi tulisan di sebuah publikasi komunitas.
Ada yang sedikit lebih santai ketimbang yang pertama dan kedua. Cukup berkumpul saja -- secara offline ataupun online --, lalu setiap peserta dipersilahkan meluangkan waktu sejenak untuk menulis. Topiknya bebas. Menulis apa saja. Lalu, di akhir sesi, setiap orang dipersilahkan untuk memaparkan ke hadirin, apa yang ia baru saja tulis. Setiap orang yang lain pun boleh memberikan pertanyaan, saran, dan masukan, untuk memperbaiki kualitas tulisan itu.
Ada lagi yang cukup berfokus pada kegiatan lomba (fiksi dan nonfiksi). Kalau yang ini, bentuknya bukan komunitas resmi, melainkan hanyalah kumpulan circle yang saling beririsan satu sama lain. Suasana di circle ini akan berubah menjadi sangat kompetitif, ketika sedang ada musim "kompetisi penulisan" berhadiah.
Oh ya, biasanya, panitia kompetisi penulisan ini akan membukukan naskah para pemenang. Jadi, otomatis bisa langsung terbit, kalau berhasil sampai menang. Aku sudah mengikuti cukup banyak perlombaan seperti itu. Sempat pernah menang dan dapat hadiah, tapi belum berhasil menang sampai dibukukan.
Ada juga yang mengadakan "tantangan menulis sukarela tanpa paksaan". Seperti marathon, ada yang finish sampai akhir, banyak yang tumbang di tengah. Aku sempat berhasil menyelesaikannya, satu kali. Arsip-arsip tulisan itu masih banyak menumpuk di ponselku sampai hari ini.
Ada juga yang berfokus mengadakan kegiatan rutin untuk menghadirkan "pakar di bidangnya" dan sekalian mengadakan bedah buku. Ada yang offline, ada yang online. Ilmu dan materi yang dibawakan biasanya selalu "daging", padahal tak perlu beli tiket masuk untuk menghadiri acara ini.
Tak kusangka, ternyata skena baca-tulis di sini lumayan banyak ragamnya.