pyrophoricphonon

Walikota

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. 6 Desember 2029. Ternyata, totalnya mencapai 498.310 suara. Menang tipis.

"Apa ada rencana gugatan ke MK?" tanyaku kepada Jajang, mata-mata andalanku yang berhasil ku susupkan ke tim sukses calon nomor empat.

"Permisi tuan, ada tamu", ujar seorang petugas keamanan yang berjaga di gerbang depan, tiba-tiba saja menyela diskusiku dengan Jajang. Aku pun berjalan perlahan ke arah jendela depan, sambil mengintip tipis-tipis di balik gorden. Ada banyak sekali rombongan mobil di luar sana, membawa orang-orang yang mengenakan atribut berwarna seragam.

Simpatisan nomor empat, sedang mengarak kedua calon untuk memasuki markas kami. Aku pun bergegas menyuruh Jajang untuk bersembunyi di lantai dua. Bisa gawat jika mereka tahu ada Jajang di sini.

"Mereka datang kesini! Apa kamu tidak tahu apa-apa soal ini?" tanyaku kepada Jajang sambil bersama-sama menaiki tangga ke lantai dua.

"Beliau itu tidak bisa ditebak. Kalau mendadak seperti ini, berarti itu semua inisiatif beliau! Langsung merespon pengumuman yang barusan!", jawab Jajang.

Sesampainya di lantai dua, aku langsung memasuki ruang CCTV untuk memantau suasana pertemuan di lantai dasar. Sementara itu, tiba-tiba Jajang -- yang tadi masih mengikutiku dari belakang -- sudah hilang tanpa jejak.


Empat jam kemudian, hasil pertemuan itu sudah disiarkan ke berbagai media massa. Pasangan calon nomor empat mengakui keunggulan pasangan calon nomor lima, sambil mengucapkan selamat kepada pasangan nomor lima dengan langsung mengunjungi kediaman calon walikota nomor urut lima.

Berarti, dapat disimpulkan bahwa mereka tak akan melakukan gugatan ke MK. Berarti, mulai sekarang, bisa langsung fokus untuk langsung bekerja, meskipun pelantikannya masih lama.

"Udah ya, gue pulang dulu," ujarku kepada teman sekampusku dulu, yang sejak siang ini telah resmi menjadi Walikota terpilih.

Aku sebenarnya sudah lama sekali hilang kontak dengan dia. Lebih tepatnya, aku sendiri yang memilih untuk menghilangkan diri sendiri. Dari semua kontak. Tapi, pada suatu hari, dia berhasil menemukan akun anonku yang ku pakai sehari-hari untuk meracau di Internet. Sejak hari itu, aku selalu mengobrol perkara topik apa saja, setiap hari. Sampai sekarang. Lalu, kadang-kadang, ketemuan. Ikut event bareng. Ikut reunian. Dan seterusnya.

Sudah empat belas tahun aku berteman dengan dia, dan sekarang dia berhasil jadi Walikota di kota tempat aku lahir dan tinggal. Hmm. Apa yang sebaiknya aku lakukan?

"Besok kesini lagi gak lu?" tanya Pak Walikota.

"Gak tau deh. Bahas di chat aja lah."